Jumat, Juni 19, 2009

ILUSI UANG

Ada alasan lain mengapa para investor mengabaikan pentingnya inflasi : apa yang disebut oleh psikolog sebagai "Ilusi Uang". Jika Anda memperoleh kenaikan penghasilan 2% dalam suatu tahun ketika terjadi inflasi 4%, Anda pasti akan merasa lebih baik ketimbang menerima penghasilan yang berkurang sebesar 2% ketika inflasi nol. Tapi sebenarnya, kedua perubahan penghasilan tersebut menempatkan Anda pada posisi yang persis sama - 2% lebih buruk setelah terjadi inflasi. Selama perubahan nominal (atau absolut) bernilai positif, kita menganggapnya sebagai hal baik- walau hasil riil (atau setelah inflasi) bernilai negatif. Di samping itu, setiap perubahan yang terjadi pada pendapatan Anda akan terlihat lebih nyata dan spesifik dibandingkan dengan perubahan harga umum dalam perekonomian secara keseluruhan. Begitu pula, investor merasa senang saat memperoleh 11% dari sertifikat deposito bank (certificate of deposit/CD) pada 1980 dan kecewa sekali saat memperoleh kenaikan pendapatan hanya sekitar 2% pada 2003 – walaupun sebenarnya mereka kehilangan uang setelah inflasi pada 1980 itu, dan sebenarnya mampu mengimbangi inflasi sekarang. Tingkat nominal yang kita peroleh tercetak pada iklan bank dan dipajang di jendelanya, bila angkanya tinggi kita akan merasa senang. Namun, inflasi dengan diam-diam menggerogoti angka-angka tinggi tersebut. Tanpa diiklankan, inflasi menghabiskan kekayaan kita. Itulah sebabnya mengapa inflasi dengan mudah dilupakan – dan itu pula sebabnya penting adanya untuk mengukur keberhasilan kegiatan investasi Anda tidak hanya berdasarkan apa yang Anda peroleh, tetapi seberapa cepat Anda berpacu dengan inflasi.
 
Lebih mendasar lagi, seorang investor pintar harus selalu waspada dari segala kejadian tak diharapkan dan dianggap remeh. Ada tiga alasan kuat untuk yakin bahwa inflasi tidak mati :
  • Sekitar tahun 1973-1982, AS mengalami kenaikan inflasi paling buruk dalam sejarah kita. Diukur dengan Indeks Harga Konsumen, harga-harga meningkat lebih dari dua kali lipat pada periode tersebut, naik dengan tingkat tahunan hampir 9%. Pada 1979 saja, inflasi mencapai 13,3% melumpuhkan ekonomi dalam peristiwa yang dikenal sebagai “stagflasi” – dan membuat banyak komentator mempertanyakan apakah Amerika mampu bersaing di paar global. Barang dan jasa yang berharga $100 pada awal 1973 menjadi $230 pada akhir 1982, menyusutkan nilai satu dolar hingga kurang dari 45 sen. Tak ada seorang pun yang mengalami masa-masa tersebut akan meremehkan kehilangan kekayaan seperti itu; orang yang berhati-hati tidak akan gagal melindungi diri dari resiko yang bisa berulang tersebut.
  • Sejak tahun 1960, 69% dari negara-negara berorientasi pasar pernah mengalami setidaknya satu kali inflasi yang tingkat tahunannya mencapai 25% atau lebih. Secara rata-rata, berbagai periode inflasi tersebut menghancurkan 53% daya beli investor. Adalah gila untuk tidak berharap Amerika tidak akan terkena bencana seperti itu. Namun, kita akan lebih gila lagi jika menyimpulkan bahwa hal itu tak akan pernah terjadi di AS.
  • Kenaikan harga-harga membuat Paman Sam melunasi utangnya dengan dolar yang telah menjadi lebih murah karena inflasi. Inflasi yang sepenuhnya bersifat menghancurkan bertentangan dengan kepentingan ekonomi pemerintah yang secara teratur meminjam uang.

Selasa, Juni 16, 2009

Investor atau Spekulator ? Bagian 2

Mencampuradukkan spekulasi dengan investasi, Graham memperingatkan, selalu merupakan kesalahan. Pada 1990-an, pencampuradukan tersebut menyebabkan kehancuran massal. Hampir semua orang, sepertinya, langsung kehilangan kesabaran, dan Amerika menjadi Negara Spekulasi, dihuni oleh traders yang berpindah-pindah dari satu saham ke saham lain seperti belalang mendengung di ladang jerami bulan Agustus.

Orang mulai percaya bahwa pengujian terhadap suatu teknik investasi semata-mata soal apakah teknik tersebut “berhasil” atau tidak. Jika mereka bisa mengalahkan pasar dalam suatu periode, tanpa peduli seberapa berbahaya dan dungunya taktik mereka, mereka dengan bangga mengatakan bahwa mereka “benar”. Namun, seorang investor pintar tidak ingin hanya menjadi benar untuk sementara waktu. Untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang, Anda harus terus-menerus dan pasti benar. Teknik-teknik yang menjadi sangat terkenal pada 1990-an –day trading (membeli dan menjual saham dalam satu hari), mengabaikan diversifikasi, memperjualbelikan mutual fund yang sedang naik daun, dan mengikuti berbagai “sistem” pemilihan saham –sepertinya berhasil. Namun berbagai teknik tersebut tak memiliki peluang untuk bertahan dalam jangka panjang, karena semuanya tidak bisa memenuhi ketiga kriteria Graham untuk berinvestasi.

Untuk bisa memahami mengapa return temporer yang tinggi tidak bisa membuktikan apa pun, bayangkan dua tempat yang berjarak 130 mil. Jika saya mematuhi rambu-rambu batas kecepatan 65 mil per jam, maka saya bisa menempuh jarak tersebut dalam dua jam. Namun, jika saya berkendara dengan kecepatan 130 mil per jam, saya bisa mencapai tujuan dalam satu jam. Jika saya mencoba melakukan ini dan saya selamat, apakah saya “benar”? Haruskah Anda tergoda untuk mencobanya juga, karena saya menyombongkan diri bahwa saya “berhasil”? Trik-trik super untuk bisa mengalahkan pasar sama saja seperti contoh di atas : Dalam jangka pendek, sepanjang Anda memiliki keberuntungan, anda akan berhasil. Lebih dari itu, Anda akan celaka.

Pada 1999 setidaknya enam juta orang melakukan perdagangan secara online –dan sekitar satu dari sepuluh orang melakukan kegiatan jual-beli dalam satu hari (day trading), menggunakan internet untuk membeli dan menjual saham secepat kilat. Setiap orang, mulai dari showbiz diva Barbra Streisand sampai Nicholas Birbas, seorang berusia 25 tahun mantan waiter di Queens, New York, melempat-lempar saham seperti sedang menggenggam bara api. “Sebelumnya” ejek Birbas, “saya melakukan investasi untuk jangka panjang dan saya menyadari bahwa itu tidak cerdas.” Sekarang , Birbas memperdagangkan saham hingga 10 kali dalam sehari dan berharap memperoleh $100.000 dalam setahun. “Saya tidak tahan melihat ada tinta merah di dalam kolom laba-rugi saya,” Streisand bergidik dalam sebuah wawancara dengan Fortune. Saya seorang Taurus, banteng, jadi saya bereaksi terhadap warna merah. Jika saya melihat warna merah, saya akan menjual saham saya secepatnya.”

Dengan mengalirkan data tentang saham tanpa henti ke bar dan salon, kafe dan restoran, taksi dan terminal truk, situs keuangan dan TV finansial, mengubah pasar modal menjadi video game nonstop nasional. Publik merasa lebih paham tentang pasar modal dibandingkan dengan sebelumnya. Sayangnya, ketika orang kebanjiran data, pemahaman sebenarnya tidak ada. Saham menjadi benar-benar terpisah dari perusahaan yang menerbitkannya – murni abstraksi, hanya kedipan yang bergerak di sepanjang layar TV atau komputer. Jika kedipan tersebut bergerak ke atas, semua persoalan selesai.

Namun melakukan perdagangan dengan berperilaku seakan-akan celana dalam Anda sedang terbakar bukanlah satu-satunya bentuk spekulasi. Sepanjang dasawarsa terakhir, formula spekulatif diperkenalkan satu demi satu, dipopulerkan, kemudian dicampakkan. Semuanya memiliki sejumlah ciri yang sama – Ini cepat! Ini mudah! Ini tak akan membuat Anda rugi sedikit pun!- sementara semuanya melanggar setidaknya satu dari beberapa rumusan yang dibuat Graham untuk membedakan antara investasi dan spekulasi.

Semua formula yang menyesatkan untuk berinvestasi dengan imbal balik yang besar dan cepat serta mudah ini memperkuat peringatan yang diberikan Graham bahwa anda harus menyikapi spekulasi seperti seorang penjudi kenyang pengalaman mengayunkan langkah-langkah kekinya ke kasino :

  • Jangan teperdaya oleh pikiran Anda yang mengatakan bahwa Anda sedang berinvestasi ketika sebenarnya Anda sedang berspekulasi.
  • Berspekulasi akan menjadi sangat mematikan pada saat Anda mulai melakukannya dengan serius.
  • Anda harus membuat batasan yang tegas atas jumlah yang berani Anda pertaruhkan.

Sama seperti seorang penjudi yang penuh perhitungan membawa, katakan, $100 ke lantai kasino dan meninggalkan semua sisa uangnya dalam brankas terkunci di hotelnya, seorang investor pintar akan menyisihkan bagian yang sangat kecil dari seluruh portofolionya untuk digunakan sebagai “uang gila”. Bagi sebagian besar kita, 10% dari semua kekayaan adalah jumlah maksimal yang masih mungkin digunakan untuk tujuan spekulatif yang beresiko. Jangan pernah mencampur uang dalam rekening spekulatif Anda dengan uang yang ada dalam rekening investasi Anda; jangan pernah biarkan pikiran-pikiran spekulatif merasuk ke dalam aktivitas investasi Anda; dan jangan pernah meletakkan lebih dari 10% harta Anda ke dalam rekening uang gila, apa pun yang terjadi.

Bagaimanapun, baik atau buruk, insting untuk melakukan perjudian adalah bagian dari sifat dasar manusia – sehingga bagi kebanyakan orang tak ada gunanya untuk mencoba menyembunyikannya. Namun, Anda harus membatasi dan menahannya. Itu satu-satunya cara untuk yakin bahwa Anda tidak akan membodohi diri sendiri dengan mencampuradukkan spekulasi dengan investasi.

Disadur dari "The Intelligent Investor" by Benjamin Graham

Kamis, Mei 28, 2009

Investor atau Spekulator ? Bagian 1

Menurut Anda, mengapa kira-kira para broker di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) selalu bergembira ketika bel tanda penutupan perdagangan berbunyi - apapun yang terjadi di pasar hari itu? Karena setiap kali Anda melakukan perdagangan, mereka mendapatkan uang - tak peduli apakah Anda juga mendapatkan uang atau tidak. Dengan melakukan spekulasi ketimbang berinvestasi, Anda mengurangi peluang untuk menambah kekayaan Anda sendiri dan justru menambah kekayaan orang lain.
Definisi Graham tentang investasi sudah sangat jelas : "Tindakan investasi adalah tindakan yang, melalui analisis menyeluruh, menjanjikan keamanan dana pokok dan memberikan return (keuntungan/pengembalian) memadai." Perhatikan bahwa berinvestasi menurut Graham, terdiri dari tiga elemen :
  • Anda harus menganalisis sebuah perusahaan secara menyeluruh, dan kokoh atau tidaknya fondasi bisnisnya, sebelum Anda membeli sahamnya;
  • Anda harus mengambil tindakan untuk melindungi diri Anda dari kerugian besar;
  • Anda harus memasang target untuk mencapai kinerja yang "lumayan", bukan yang luar biasa
Seorang investor mengalkulasi berapa nilai suatu saham, berdasarkan nilai bisnis perusahaan tersebut. Seorang spekulator berjudi bahwa suatu saham akan naik harganya karena ada orang lain yang mau membayar lebih tinggi lagi nanti. Seperti yang pernah dikatakan oleh Graham, investor memperhitungkan "harga pasar menggunakan standar-standar nilai yang telah ada," sedangkan spekulator "mendasarkan standar nilai (mereka) pada harga pasar." Bagi seorang spekulator, aliran harga saham yang terus-menerus bagaikan oksigen; jika berhenti maka ia akan mati. Bagi seorang investor, apa yang Graham sebut sebagai nilai "pasar" tidaklah begitu penting. Graham mengimbau Anda untuk melakukan investasi hanya jika Anda merasa nyaman memiliki suatu saham walaupun Anda tak tahu harga harian saham itu.
Disadur dari "The Intelligent Investor" oleh Benjamin Graham.

Senin, Mei 25, 2009

Krisis Global

Sejak krisis finansial melanda dunia, banyak investor mengalami kerugian. Lalu timbul pertanyaan, apakah pasar modal masih menjadi tempat yang baik untuk mendapatkan gain (keuntungan)? Atau jika ingin melindungi nilai dana agar tidak merosot dalam waktu sekejap, apa yang harus kita lakukan? Jika modal minim dan ingin investasi, bagaimana caranya supaya resiko tetap minim? Tidak sedikit investor yang khawatir dan bingung memikirkan "masa depan" dana yang mereka miliki.
Kinerja pasar modal masih belum normal, belum stabil. Yang terjadi banyak perusahaan multinasional yang bertumbangan karena sulitnya menjual produknya. Jadi harus bagaimana? Untuk itulah saya akan berbagi pengalaman bagaimana berinvestasi yang aman dan minim resikonya. Nantikan posting-posting berikutnya dengan tips-tips yang aman.
Berinvestasi yang benar pada Saham / Stock perlu dipelajari, pakar yang terkenal adalah Warren Buffet, dan Beliau belajar dari seorang yaitu Benjamin Graham.
Bukunya masih relevan sampai hari ini, yaitu "The Intelligent Investor"